Minggu, 08 Maret 2015

Mungkin Alam Juga Berkata IYA

Alam sedang berbicara, namun terkadang manusia tidak mengerti, tidak memahami kalau alam pun bisa bicara.
Mungkin alam juga berkata IYA.

Tidak hanya manusia saja yg ingin dimengerti, tapi alam juga harus dimengerti, Kenapa?
karena di alam semesta ini ada banyak tanda-tanda, kode-kode yg harus dipahami, banyak hal-hal yg tersirat yg tidak nampak kasat mata, namun jika kita mampu membaca kode-kode alam tersebut, kita akan paham  "ohh, alam juga berbicara...".

Kamis, 05 Maret 2015

Sepasang Sandal

Tidak ada sepasang sandal yang kedua-duanya kanan, atau kedua-duanya kiri, tapi kanan dan kiri. Namanya pasangan itu ada kanan dan kiri. Tidak ada pasangan yang gunanya sama, melainkan memiliki fungsi masing-masing.



Aku adalah aku, kau adalah kau. Aku tak perlu mengubahmu menjadi aku atau menjadikan aku sepertimu. Aku dan kau semata penting untuk memahami dan mengerti.
layaknya sepasang sandal, ada kanan dan kiri. Keduanya nampak serasi saat berjalan beriringan, tidak akan saling mendahului ataupun saling menginjak.




begitu pula aku dan kau, berbeda dengan kelebihan masing-masing dan saling mengisi kekurangan kita. Harus bisa mengerti bukan hanya ingin dimengerti, memahami bukan hanya ingin dipahami. karena kita berbeda dan perbedaan itu indah.




KITA adalah SATU TIM. yang namanya tim, tentunya harus saling bekerjasama, tidak saling menjatuhkan, mengingatkan ketika salah, memberikan energi semangat untuk hal yang baik, serta mendukung satu sama lain.




Tujuan kita sama, layaknya sebuah perlombaan pasti ada yang menang dan kalah. Kalaupun nanti kita sebagai pemenang, kita harus tetap ingat bahwa kita harus tetap menjadi satu tim. Perjuangan saat susah, senang kita lalui bersama. pantang menyerah untuk menggapai kemenangan.
Ataupun sebaliknya, jika kita kalah, kita juga tetap satu tim, tidak akan saling menjatuhkan satu sama lain, melainkan tetap mendukung walaupun jalan kita akan berbeda.

Senin, 02 Maret 2015

Tuhan, aku tau.... aku ingin....

Tuhan, aku tau.......
bahwa hidup ini hanya sementara, aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk hidupku dan hidup orang lain.

Tuhan, aku ingin menjadi sebaik-baiknya orang yang bisa bermanfaat buat semua orang.
aku ingin menebarkan semangat ketika orang lain melihatku, seakan tak pernah tau kalau akupun tak setegar tembok besi yang nampak berdiri kokoh.
terkadang seperti rumah kardus, yang akan roboh jika diterpa angin.

Tuhan, aku ingin setiap orang yang melihatku, ia tersenyum seakan tidak ada kebencian ataupun dendam padaku.

Tuhan, aku ingin memiliki teman sebanyaaaaaaak-banyaknya, dan akan ku jaga dengan sebaik-baiknya.

Tuhan, aku ingin hidupku tidak hanya untukku, tapi juga untuk keluargaku, teman-temanku serta orang lain yang di sekelilingku.
Tuhan, aku bahagia :)

Sabtu, 28 Februari 2015

Karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula

  
Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, "Kita pulang saja?".   Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?" Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.   Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya kebiasaan seperti ini?" Si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana."   Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, peduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana , masa kecilnya dan keluarganya. Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.

Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli... betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu!   Kopi asin yang ada gunanya... 

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin."   Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk mengubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.   Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi. 

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?   Si gadis pasti menjawab, "Rasanya manis."   Kadang Anda merasa Anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat Anda tentang seseorang itu bukan seperti yang Anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.  

Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.

Rindu, Aku Rindu

wahai sang putri ratu hati

terjemahkan bimbang rasa ini

dimanakah kau simpan jodohku

dimanakah akan ku temukan waktu

dimanakah nikmat dalam hasrat dalam dekap hangat pelukmumu

kisah yang pernah ku lalui

hanya berujung dengan perih

dimanakah kau simpan jodohku

dimanakah akan ku temukan waktu

dimanakah nikmat dalam hasrat dalam dekap hangat pelukmu

rindu, rindu, aku merindumu

rindu, rindu, aku rindu

pada getar rasa cinta, pada hangat pelukanmu

pada setiap ungkapan rasa yang indah

pertemukan kepadaku dimana tersimpan jodohku

akan ku cintainya sepanjang hidupku

Kamis, 26 Februari 2015

Yes, I am "Idealis Penyelaras"

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala. Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.
Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.

Rabu, 25 Februari 2015

Skripsi oh skripsi

hmmmm, maju mundur maju mundur ternyata udah semester tua, gak terasa udah 4tahun makan bangku kuliah, (ehh, gak makan deng, cuma duduk.. he).
perjuangan ini tdk mudah kawan, campur aduk rasanya. kalo es campur sih enak, nah ini arrrrgggggggggghhhh. pokoknya seperti itulah.
dr mulai ngajuin judul, 4 kali di tolak.. sakiiiiiitt, tp aq hrs tetep move on. bangkit lagi, ngajuin lagi di tolak lagi, sampai akhirnya 4 kali di tolak. Nah, karena udah pasrah ini yg terakhir kawan, Bismillah ngajuin judul yg kelima, kalo lsgs acc berarti ini memang jalanku, kalo tidak yaaaah mungkin judul belum bertemu.. (itu jodoh kelles, hehe).
Alhamdulillah akhirnya lgsg di acc, senengnyaaaaaa.. tapi itu pas bentrok sama waktu KKN kawan jd tertunda dech, 1 bulan setengah skripsi vakum.. hmmm. gak papa lah yg penting udah di acc.. :)
23 Januari 2015 akhirnya bisa seminar proposal, alhamdulillah masih lancar cuma kadang macet dikit. Sekarang Bab 2 banyak macetnya kawan, hmm mikir ini itu pusing, revisi gak selesai2, males banget ngerjainnya, kalo buka laptop niatnya mau ngerjain Bab 2, ehh malah ngelirik fesbuk, twitter, dkk. ampun dech ini Bab 2 gak kelar2 malah nongkrong di dumay.
kya malam ini nih, tiba2 inget kamu, iyaaa kamu blog yg dah lama gak aq intip.. (ngintip2 ntr timbil'en lhooo, hehe).
udah dulu yaa, mau ngintip Bab 2 biar cepet selesai..
see ;)

Sabtu, 28 Desember 2013

Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok

Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah              : Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu      : Dian Rif’iyati, M.S.I

Disusun Oleh :
Kelompok 4

1.      Elly Anisah                                 2021111035
2.      Dewi Nurlita Kurniawati           2021111036
3.      Annisa Amalia Zikrina              2021111050
4.      Fatkhul Ribkhah                       2021111059

Kelas H

PRODI PAI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013



BAB II
PEMABAHASAN 
A.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pada pendidikan yang sesungguhnya  anak dituntut mengerti bahwa ia harus memahami apa yang dikehendaki oleh pemegang kewibawaan dan menyadari bahwa hal yang diajarkan adalah perlu baginya. Dapat dikatakan bahwa ciri utamanya adalah adanya kesiapan interaksi edukatif dari pendidik dan peserta didik.[1] Beberapa pendapat para ahli tentang pendidikan yaitu:
Menurut Langeveld, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan anak kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
Menurut John Dewey, pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak yang kita didik sesuai dengan dunianya dan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[2]
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keterampilan, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[3]
Dari beberapa defenisi pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam memanusiakan manusia.

B.     Pengertian Kelompok
Secara sosiologis, istilah kelompok mempunyai pengertian sebagai suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi, dimana dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Beberapa definisi kelompok:
Menurut Joseph S. Roucek., suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka terdapat beberapa pola interasi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.
Menururt Mayor Polak, kelompok sosial adalah satu group, yaitu sejumlah orang yang ada antara hubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur.
Menurut Wila Huky, kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kelompok menurut tinjauan sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan terjadi hubungan timbal balik dimana ia merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.[4]


C.    Kelompok-Kelompok Sosial dalam Masyarakat
Kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat bergantung dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada yang memandang dari proses terbentuknya, kekuatan ikatan emosional dan ada yang membaginya berdasarkan banyaknya jumlah anggota kelompok.
1.      William G.Summer mengemukakan adanya in group atau we group dan out group atau others group atau every body else. Di dalam in group ada asosialisasi ke arah mana tiap-tiap individu anggota kelompok kesetiaan dan solidaritas serta terdapat usaha identifikasi pribadi satu sama lain ke arah adanya rasa persahabatan, kerjasama, rasa tanggung jawab, terutama disaat mendesak dan gawat.
2.      Cooley mempergunakan dasar “we and the group” dari Summer yang mengemukakan adanya jenis-jenis kelompok sosial-sosial primair, sekundair dan tertier atas dasar intimitas perasaan individu-individu terhadap individu-individu atau kelompok lainnya.
3.      John L. Gillin membagi kelompok atas dasar fungsional, yaitu:
a.       Kelompok persamaan darah
b.      Kelompok berdasarkan karakteristik jasmaniah atau mental
c.       Kelompok proximitas
d.      Kelompok berdasarkan interest kulturil
e.       Alvedes yang menyelidiki pada kelompok-kelompok hewan terdapatlah kelompok tertutup dan terbuka.
f.       Theori medan membagi kelompok-kelompok itu atas struktur medannya.
g.      Kelompok dengan struktur medan yang kuat dimana setiap individu anggota kelompok merasa mempunyai medan sosial yang kuat dan permanent.
h.      Kelompok permiabel pada kelompok-kelompok tertier menurut Cooley.[5]
Kelompok sosial dapat diklasifikasian menjadi beberapa bentuk, yaitu:
a.       Kelompok primer dan Kelompok sekunder
b.      Kelompok kekerabatan
c.       Gemeinschaft dan gessellshaft
1)      Gemeinschaft by blood
2)      Gemeinschaft of place
3)      Gemeinschaft of mind
d.      Kelompok formal dan kelompok nonformal
e.       Membership group dan reference group.[6]

D.    Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok
1.      Prasangka dalam Hubungan Antar Kelompok
Bermacam-macam teori yang telah dikemukakan bahwa prasangka adalah sebagai sesuatu yang wajar yang sendirinya timbul bila terjadi hubungan antara dua kelompok yang berlainan. Manusia sadar akan kesamaan dalam kalangannya sendiri dan merasa solider dengan kelompok itu.
a)      Prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari.
Teori ini memandang prasangka sebagai hasil proses belajar seperti halnya dengan sikap-sikap lain yang terdapat pada manusia. Sikap senang atau tidak senang terhadap golongan lain adalah hasil pengalaman pribadi yang  berlangsung lama atau berdasarkan pengalaman yang traumatis.
b)      Prasangka sebagai alat mencapai tujuan praktis.
Golongan yang dominan ingin menyingkirkan golongan minoritas dari dunia persaingan. Sikap itu terdapat dikalangan penjajah terhadap bangsa yang dijajah agar dapat dieksploitasinya. Untuk membenarkan diri mereka mencari alasan penindasan itu dengan jalan rasionalisasi.


c)      Prasangka sebagai aspek pribadi.
Menurut penelitian Murphy dan Likert ada dua orang yang mempunyai pribadi yang berprasangka. Orang yang pribadinya berprasangka menaruh prasangka terhadap berbagai hal. Maka kepribadian merupakan suatu faktor penting bila kita ingin memahami hakikat dan perkembangan prasangka.
d)     Pendekatan multi dimensional
Dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan prasangka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memahami prasangka harus kita gunakan pendekatan yang multi dimensional. Prasangka dalam hubungan antar- kelompok perlu kita ketahui bahwa prasangka bukanlah suatu instink yang dibawa lahir, melainkan sesuatu yang dipelajari. Karena prasangka itu dipelajari, maka prasangka itu dapat diubah atau dikurangi bahkan dapat dicegah timbulnya.[7]
2.      Pendidikan Umum dan Hubungan Antar Kelompok
Menurut penelitian, makin tinggi pendidikan seseorang makin kurang prasangkanya terhadap golongan lain, makin toleran sikapnya terhadap golongan minoritas. Mereka yang berpendidikan universitas ternyata menunjukkan sikap yang paling toleran. Namun ada tidaknya prasangka tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan saja. Pendidikan dapat merupakan faktor yang menentukan kedudukan, rasa harga diri, rasa ketentraman hidup yang turut menentukan prasangka. Ada kemungkinan mengurangi, tetapi dapat pula memperkuat prasangka.
3.      Struktur Hubungan Antar Kelompok di Sekolah
Sekolah biasanya terlampau memusatkan perhatian kepada pendidikan akademis, salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah memupuk hubungan sosial dikalangan murid-murid. Program pendidikan antar-murid, antar golongan ini bergantung pada struktur sosial murid-murid. Ada tidaknya golongan minoritas dikalangan mereka mempengaruhi hubungan antar kelompok itu.
Murid-murid di sekolah kita juga sering menunjukkan perbedaan tentang asal kebangsaan, kesukuan, agama, adat istiadat, dan kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaan-perbedaan itu, mungkin timbul golongan minoritas di kalangan murid-murid yang tersembunyi ataupun yang nyata.
Guru-guru hendaknya memperhatikan struktur golongan-golongan dikalangan murid-muridnya. Apakah anak-anak yang berasal dari daerah tertentu, yang berasal dari keturunan asing atau yang berlainan agama diperlakukan dengan cara yang tak wajar oleh teman-temannya atau disingkirkan dari kegiatan tertentu. Dengan perlakuan yang demikian anak-anak yang didiskriminasikan akan merasa dirinya asing dan tak diterima sebagai anggota penuh dari masyarakat sekolahnya.
4.      Usaha-usaha Memperbaiki Hubungan Antar Kelompok di Sekolah
Tiap sekolah perlu memperhatikan hubungan antar-murid dan antar-kelompok, terlebih jika terdapat golongan minoritas. Berbagai usaha dapat dijalankan untuk memperbaiki hubungan antar-kelompok, walaupun kekuasaan sekolah sangat terbatas. Oleh sebab sekolah terbatas kemampuannya untuk mengubah situasi sosial sekolah, dapat menggugah nilai-nilai dan sikap anak-anak secara individual, rasa keadilan, rasa keagamaan yang mengemukakan kesamaan manusia di hadapan Tuhan. Cara ini dapat dilakukan melalui pemberian informasi diskusi kelompok, hubungan pribadi dan sebagainya.
Kebanyakan usaha dalam perbaikan hubungan antar-kelompok mengandung unsur penggugahan nilai dan sikap, oleh sebab itu sekolah tidak mampu mengubah keadaan sosial dan prasangka dalam masyarakat. Di tengah pendidikan yang dikonsep saebagai arena perjuangan antar kelas/strata sosial maka pendidikan harus bisa diubah menjadi kekuatan yang bisa membebaskan diri dari operasi kelas dominan. Perjuangan ini dimulai dengan pemberian penyadaran terhadap siswa dan seluruh praktisi pendidikan. Mereka harus memiliki self-awareness dan kesadaran kelas. Intervensi ke sekolah harus dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk mengubah karakter sekolah/pendidikan.
5.      Efektifitas Pendidikan Antar Kelompok
Usaha-usaha perbaikan hubungan antar keolmpok didasarkan atas anggapan atau asumsi tertentu:
a)      Prasangka disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.
b)      Pengalaman di sekolah dapat mengubah kelakuannya di luar sekolah dan situasi-situasi lain.
c)      Hubungan pribadi dengan anggota kelompok lain akan mengurangi prasangka.
Sekolah merupakan lembaga yang efektif untuk mengurangi prasangka tidak dapat didukung dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Efektifitas program khusus tentang hubungan antar-kelompok tidak mudah dinilai. Kebanyakan program itu corak pemberian informasi yang kemudian diuji dengan tes tertulis.
Perlu kita sadari bahwa sekolah hanya salah satu dari sejumlah daya-daya sosial yang mempengaruhi hubungan antar-golongan. Sekolah tak mampu mengubah masyarakat. Untuk menghilangkan prasangka terhadap golongan lain, seluruh masyarakat harus turut serta termasuk pemerintah dan guru-guru harus menjadi model pribadi yang toleran dalam ucapan maupun perbuatannya.
6.      Dasar-dasar bagi Pendidikan Antar Golongan
Program-program tentang hubungan antar-golongan dapat dilakukan menurut pola pelajaran yakni dengan menyampaikan informasi seperti pelajaran sejarah, geografi, dan lain lain. Prasangka dapat pula menjadi aspek kebudayaan yang diperoleh melalui proses sosialisasi, melalui situasi yang dihadapi anak dalam hidupnya. Sekolah dapat memberikan pelajaran agar anak tidak berprasangka, namun apakah akan terjadi transfer ke dalam situasi-situasi lain di luar sekolah menjadi pertanyaan, karena kelakuannya akan bertentangan dengan yang lazim dilihatnya dalam masyarakat.[8]

E.     Studi Kasus
Masyarakat atau kelompok akan memposisikan individu tersebut sesuai tingkatan pendidikannya. Misalnya untuk masyarakat pedesaan, lulusan SMA biasa merupakan jenjang teratas di kalangan mereka karena kebanyakan mereka tidak sekolah. Orang tersebut biasanya dijadikan sebagai penasihat untuk urusan-urusan tertentu. Hal yang berbeda jika tamatan SMA tersebut dalam komunitas orang kota yang kebanyakan mereka telah mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Status tamatan SMA terasa sangat rendah.
Meskipun tidak dapat dipungkiri, jenjang pendidikan belum dapat mewakili kearifan dan keilmuan seseorang. Tetapi paling tidak, jenjang pendidikan dapat menjadi ciri individu yang satu dengan yang lain untuk kemudian menempatkan status mereka dalam suatu kelompok atau masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2010. Pengantar Kependidikan. Bandung: Alfa Beta
Darajat, Zakiah. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Idi, Abdullah. 2001. Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat dan Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Khobir, Abdul. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN Press
Nasution, S. 1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara




[1] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm.
[2] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Press, 2009), hlm. 
[3] Sudarwan Danim, Pengantar Kependidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2010), hlm.
[4] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat dan Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.
[5]Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 
[6] Abdullah Idi, op.cit., hlm
[7] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 
[8] Ibid., hlm.